Langkat, Suaraperjuangan.co.id - Berbicara sedikit tentang Kemerdekaan, bahwa kemerdekaan itu sejatinya adalah janji suci yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, janji tentang keadilan sosial, kesejahteraan, dan harkat manusia yang terangkat. Namun, ketika kita menatap Kabupaten Langkat dalam cermin kemerdekaan Indonesia yang ke-80 ini, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar, Sudahkah cita-cita itu benar-benar kita wujudkan?
Sebagai bagian dari generasi muda yang lahir dan tumbuh dari rahim Bumi Melayu Negeri Adat Negeri Bertuah, kami dari Himpunan Mahasiswa Melayu Indonesia (HIMMI) Langkat merasa sangat perlu untuk menyuarakan suara nurani rakyat bahwa "Hidup berdiri, mati bermarwah Narasi ini bukan sekadar kritik, tapi refleksi sekaligus harapan demi masa depan Langkat yang lebih baik.
Pertama yang kami sorot yaitu Aspek Pemerintahan dan Kepemimpinan, Cita-cita kemerdekaan adalah menghadirkan pemerintahan yang bersih, transparan, dan melayani rakyat. Namun, Langkat tercoreng dengan berbagai kasus korupsi dan kepemimpinan yang jauh dari nilai-nilai amanah. Kami akan selalu mengingatkan Bapak Bupati Langkat yang menahkodai langkat hari ini bahwa kekuasaan bukanlah warisan. Pemerintah harus kembali berpihak kepada rakyat, bukan kepada kelompok kepentingan.
Yang kedua adalah Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat, Langkat kaya akan hasil bumi dan potensi alam, tapi kemiskinan belum menemukan jalan keluar sepenuhnya, Kesenjangan antara potensi dan kenyataan membuat kami bertanya bahwa untuk siapa pembangunan ini dijalankan? Sudah saatnya ekonomi Langkat dibangun dari bawah ke atas, berbasis rakyat, bukan hanya angka dan grafik di atas kertas.
Selanjutnya yang ketiga tentunya dari aspek Pendidikan dan Generasi Muda, Kemerdekaan tanpa pendidikan adalah kemerdekaan yang rapuh. Di banyak pelosok Langkat, fasilitas pendidikan masih minim, kualitas pengajar tak merata, dan akses ke jenjang lebih tinggi masih terasa sulit untuk dijangkau. Sebagai mahasiswa, kami menolak diam. Pemerintah daerah harus serius menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama, bukan formalitas semata, terlebih lagi dalam mensejahterakan para tenaga pendidik terkhusus bagi mereka guru-guru honorer, bagi kami guru adalah pelita dalam kehidupan mereka betul-betul pahlawan tanpa tanda jasa.
Selanjutnya tidak juga terlepas dari kacamata Lingkungan. Langkat sedang kehilangan wajah hijaunya. Alih fungsi lahan, penambangan liar, dan perusakan kawasan konservasi menjadi ancaman nyata. Sebut saja misalnya Galian C ilegal yang masih banyak beroprasi di tanah langkat, yang dimana dengan mata kepala kita sendiri melihat banyak efek samping yang dapat merugikan rakyat. Kami menyerukan agar pembangunan tidak membunuh masa depan rakyat. Ekonomi bisa tumbuh, tapi harus selaras dengan pelestarian lingkungan, bukan malah saling meniadakan.
Seterusnya yang juga tidak kalah penting yaitu Sosial dan Budaya, Langkat adalah bumi warisan budaya Melayu yang kaya. Tapi nilai-nilai budaya mulai terpinggirkan, tergantikan oleh arus pragmatisme dan konsumerisme. Kami mendesak agar pelestarian budaya tidak hanya dijadikan sebagai seremonial belaka, yang dimana budaya hanya dijadikan sebagai alat untuk menggali keuntungan, tetapi menjadi bagian dari sistem pendidikan, pariwisata, dan pembangunan karakter masyarakat Langkat. Selalu Memberikan ruang kepada multi etnis namun tetap menjaga marwah dan keutuhan warisan bangsa melayu sebagai payung budaya untuk kabupaten langkat yang berbudaya dan religius.
Sebagai penutup dalam buah pikir kami ini, Seruan Mahasiswa Melayu untuk Perubahan. Kami, Himpunan Mahasiswa Melayu Indonesia (HIMMI) Langkat, bukan sedang mencari panggung. Kami menyuarakan ini karena cinta. Cinta kepada tanah kelahiran, kepada masyarakat kecil yang masih berjuang di bawah bayang-bayang ketimpangan. Kritik kami adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai anak negeri yang tidak ingin menjadi turis di rumahnya sendiri.
Mari kita songsong kemerdekaan yang lebih nyata, bukan sekadar bebas dari penjajah, tapi juga bebas dari penindasan sistemik, korupsi, ketidakadilan, dan pembungkaman. Dalam refleksi kemerdekaan Indonesia ke-80 tahun ini, Bupati langkat layaknya seseorang yang berhutang kepada rakyat dalam janji-janji politisnya, kami sampaikan tagihan janji itu melalui narasi ini, Kami yakin dan percaya Kabupaten Bertuah ini bisa terus melakukan evaluasi untuk berkembang dan menjadi kabupaten yang jauh lebih baik lagi kedepannya, dengan catatan jika pemimpinnya jujur, rakyatnya sadar, dan generasi mudanya terus bersuara.
Merdeka bukan kata-kata, Merdeka adalah kerja nyata.
Langkat bangkit, Langkat berdaulat !!!
Bersatu Sekata, Berpadu Berjaya !!!.
Ditulis oleh Rezeki Arinanda.
Himpunan Mahasiswa Melayu Indonesia (HIMMI) Langkat.
Posting Komentar