Posisi strategis Indonesia dalam geopolitik internasional, seperti yang diulas oleh Hasrul Azwar, menuntut sebuah sistem yang adaptif dan responsif. Di sinilah pentingnya penerapan forward-backward system dalam manajemen kenegaraan. Sistem ini mengharuskan pemimpin untuk memiliki visi jauh ke depan (forward) dalam mengantisipasi disrupsi digital, namun tetap mampu melakukan refleksi mendalam ke belakang (backward) untuk mengambil hikmah dari sejarah dan nilai luhur bangsa. Rekonstruksi ini harus menyentuh hingga ke Roda Parlemen, di mana fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran harus bertransformasi dari sekadar rutinitas birokratis menjadi mesin kebijakan yang melindungi hak akses warga negara . Di era digital, hak ini bukan hanya soal kebebasan berpendapat, melainkan hak atas perlindungan data pribadi, literasi digital, dan akses terhadap keadilan ekonomi di tengah ketimpangan global yang semakin tajam.
Sentralitas dari seluruh proses rekonstruksi ini terletak pada apa yang disebut sebagai poros kepemimpinan profetik. Kepemimpinan ini bukan sekadar gaya manajerial, melainkan sebuah misi suci yang mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Menelusuri jejak sejarah, kita melihat manifestasi awal pada Era Rasulullah SAW , di mana kepemimpinan profetik ditegakkan di atas pilar Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah. Rasulullah membangun Madinah sebagai organisasi modern pertama yang mengedepankan inklusivitas dan hukum yang melampaui batas kesukuan sebuah bentuk New Power pada zamannya yang mampu meruntuhkan dominasi hegemonik Romawi dan Persia. Nilai-nilai ini kemudian diterjemahkan dalam konteks kebangsaan pada Era Soekarno. Bung Karno, dengan karismanya, membangun identitas bangsa yang percaya diri di panggung dunia melalui Gerakan Non-Blok. Beliau memahami bahwa di tengah tarikan dua kutub kekuatan besar, Indonesia harus menjadi poros yang mampu menggerakkan kesadaran kolektif bangsa-bangsa terjajah untuk menuntut haknya.
Memasuki realitas hari ini, pada Era Prabowo Subianto, kepemimpinan profetik harus bertransformasi menjadi kepemimpinan strategis yang pragmatis namun tetap berprinsip. Fokus pada kedaulatan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri merupakan upaya nyata untuk mengamankan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Tantangan Prabowo adalah memastikan bahwa kekuatan militer konvensional dan diplomasi pertahanan (aspek Old Power) dapat bersinergi dengan kekuatan ekonomi digital dan pemberdayaan masyarakat sipil (aspek New Power). Di sinilah peran krusial kader HmI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai lokomotif intelektual dan moral. Sebagai organisasi mahasiswa tertua dan terbesar, kader HmI harus mampu menjadi "insan cita" yang menjembatani antara tradisi kepemimpinan profetik dengan penguasaan teknologi modern. Kader HmI dituntut untuk tidak hanya cakap dalam dialektika politik di ruang-ruang parlemen, tetapi juga tangkas dalam merumuskan solusi bagi masalah kemiskinan digital dan eksploitasi data di tingkat global.
Secara teoritis, realisme mengingatkan Indonesia untuk tetap waspada terhadap anarki internasional, sementara liberalisme mendorong kita untuk memperkuat institusi global. Namun, melalui lensa konstruktivisme, kita menyadari bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada bagaimana kita mengonstruksi identitas nasional di ruang digital. Kepemimpinan profetik memberikan ruh pada konstruksi tersebut, memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menghapus nilai kemanusiaan. Jika Roda Parlemen dapat berputar seirama dengan aspirasi rakyat yang kini lebih berdaya melalui akses informasi, maka Indonesia tidak akan lagi menjadi penonton dalam pergeseran konfigurasi kekuatan global. Dengan menerapkan forward-backward system, kita menjaga akar sejarah kepemimpinan dari era Rasulullah hingga Soekarno, sembari mengakselerasi visi strategis era Prabowo untuk menghadapi labirin geopolitik yang semakin tak terduga. Pada akhirnya, rekonstruksi organisasi modern ini adalah tentang mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dalam format yang paling relevan dengan zaman, demi mewujudkan Indonesia yang tidak hanya besar secara statistik, tetapi berwibawa secara moral di panggung dunia.
Daftar Pustaka
- Amin, M. (2026, April). Dinamika hubungan internasional kontemporer serta penggeseran konfigurasi kekuatan global dan dampaknya terhadap negara berkembang. Materi LK-III HMI Badko Sumatera Utara.
- Azwar, H. (2026, April). Geopolitik Internasional dan posisi strategis Indonesia dalam dinamika kontemporer global. Materi LK-III HMI Badko Sumatera Utara.
- Heimans, J., & Timms, H. (2018). New Power: How Power Works in Our Hyperconnected World--and How to Make It Work for You. New York: Doubleday.
- Kuntowijoyo. (2006). Maklumat Sastra Profetik: Etika, Lokalitas, dan Kebangsaan. Yogyakarta: Grafindo.
- Pananrang, A. A. (2026, April). Rekonstruksi Organisasi Modern Dalam Membangun Pengaruh Di Era Digital. Materi LK-III HMI Badko Sumatera Utara.
- Viotti, P. R., & Kauppi, M. V. (2019). International Relations Theory (6th ed.). New York: Rowman & Littlefield.
- Wendt, A. (1999). Social Theory of International Politics. Cambridge: Cambridge University Press.
Author/Penulis Opini: Fadhil Raid

Posting Komentar