Oleh: Muhammad Sardani Kader HMI Komisariat Al-Ishlahiyah Binjai, Cabang Binjai, Badko Sumatera Utara
SUARAPERJUANGAN.CO.ID|Sebentar lagi, Lampung akan menjadi tempat bertemunya kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari berbagai penjuru Indonesia. Kongres akan segera dimulai, membawa beragam aspirasi, gagasan, perbedaan pandangan, dan tentu saja harapan tentang masa depan organisasi.
Kongres merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah organisasi. Di dalamnya terdapat dinamika, perbedaan pilihan, serta proses demokrasi yang harus dihormati. Namun, di balik seluruh dinamika tersebut, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang perlu kita pikirkan bersama masa depan HMI.
Sebelum kita berbicara tentang siapa yang akan memimpin, barangkali ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu, HMI seperti apa yang ingin kita lihat setelah Kongres Lampung?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam.
Sebab, kongres bukan hanya tentang pergantian kepemimpinan. Kongres seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi, mengevaluasi perjalanan, sekaligus menyusun kembali langkah HMI dalam menghadapi perubahan zaman.
HMI memiliki sejarah yang panjang. Sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan bangsa Indonesia. Dari rahim HMI telah lahir banyak kader yang kemudian mengambil peran di berbagai ruang kehidupan bangsa.
Namun, sejarah yang besar juga menghadirkan tanggung jawab yang besar.
Kita tidak cukup hanya bangga dengan apa yang telah dilakukan generasi terdahulu. Kita juga harus bertanya kepada diri sendiri, Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?
Di Antara Kontestasi dan Gagasan
Kontestasi dalam kongres adalah sesuatu yang wajar. Perbedaan pilihan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan itulah kedewasaan organisasi diuji.
Yang perlu dijaga adalah agar kontestasi tidak membuat kita lupa pada tujuan yang lebih besar.
Jangan sampai energi kader terlalu banyak habis untuk memenangkan pertarungan, sementara gagasan tentang masa depan organisasi justru kehilangan ruang.
Kita tentu berharap Kongres Lampung tidak hanya melahirkan seorang pemimpin baru, tetapi juga melahirkan arah perjuangan yang baru.
Sebab, perubahan tidak selalu hadir hanya karena bergantinya seseorang.
Kadang, yang lebih kita perlukan adalah keberanian untuk mengubah cara berpikir.
HMI membutuhkan wajah baru, bukan semata-mata dalam arti pergantian figur, tetapi wajah baru dalam paradigma, budaya organisasi, kaderisasi, dan cara memandang persoalan bangsa.
Kaderisasi Jantung yang Harus Terus Dijaga
Kaderisasi merupakan jantung HMI.
Karena itu, membicarakan masa depan HMI berarti membicarakan kualitas kader yang akan menjadi penerusnya.
Kita perlu bertanya dengan jujur dan tenang: apakah proses kaderisasi yang kita jalankan hari ini telah mampu melahirkan kader yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan wawasan, kematangan berpikir, dan keteguhan moral?
Pertanyaan tersebut bukanlah bentuk pesimisme.
Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kecintaan terhadap organisasi.
HMI tidak boleh hanya menghitung berapa banyak kader yang lahir dari proses perkaderan. Lebih penting daripada itu adalah melihat seberapa besar kualitas manusia yang lahir dari proses tersebut.
Kader yang baik bukan hanya kader yang mampu berbicara tentang organisasi, tetapi juga mampu membaca persoalan masyarakat.
Bukan hanya mampu berdebat, tetapi mampu mendengarkan.
Bukan hanya mampu mengkritik, tetapi juga mampu menawarkan jalan keluar.
Dan bukan hanya memiliki keberanian untuk memimpin, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk belajar.
Menghidupkan Kembali Tradisi Intelektual
HMI dibangun dari tradisi intelektual.
Membaca, berdiskusi, menulis, bertukar gagasan, dan memperdebatkan berbagai persoalan merupakan bagian dari kehidupan kader.
Namun, zaman telah berubah.
Hari ini kita hidup dalam era informasi yang begitu cepat. Setiap orang dapat memperoleh pengetahuan hanya dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan berkembang begitu pesat. Media sosial menjadi ruang utama pertukaran informasi dan opini.
Di tengah perubahan tersebut, tantangan HMI bukan hanya bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagaimana memastikan kader tidak kehilangan kedalaman berpikir.
Informasi yang banyak belum tentu melahirkan pengetahuan.
Pengetahuan yang luas belum tentu melahirkan kebijaksanaan.
Karena itu, HMI perlu kembali menjadikan tradisi intelektual sebagai kebiasaan hidup kader.
Kader harus didorong untuk membaca lebih banyak, menulis lebih serius, berdiskusi lebih sehat, dan melakukan riset terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Sebab, bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu berbicara.
Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu berpikir dan bekerja.
Dekat dengan Kekuasaan, Tetap Dekat dengan Rakyat
HMI memiliki banyak alumni yang berada di berbagai ruang strategis bangsa. Hal tersebut merupakan kekuatan yang patut disyukuri.
Namun, kedekatan dengan kekuasaan harus selalu disertai dengan kesadaran untuk menjaga independensi.
Kader HMI boleh berada di ruang kekuasaan. Bahkan, jika memiliki kapasitas, kader HMI harus berani mengambil bagian dalam proses pengambilan kebijakan.
Tetapi ketika berada di sana, jangan sampai lupa dari mana kita berasal.
Kekuasaan bukan tujuan akhir dari perjuangan.
Jabatan bukan ukuran tunggal keberhasilan kader.
Yang jauh lebih penting adalah apakah ilmu dan posisi yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
HMI harus mampu menjadi mitra kritis bagi pemerintah. Mendukung kebijakan yang baik, mengingatkan ketika terdapat kekeliruan, dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat.
Independensi bukan berarti harus selalu berseberangan.
Independensi adalah keberanian untuk berdiri di atas nilai dan kepentingan yang diyakini benar.
Jangan Hanya Mewarisi Sejarah, Tetapi Ciptakan Sejarah
Kita sering mengatakan bahwa HMI adalah organisasi besar.
Pernyataan itu benar.
Tetapi kebesaran tidak boleh hanya menjadi cerita yang terus diulang.
Setiap generasi memiliki tugas sejarahnya masing-masing.
Generasi terdahulu telah memberikan fondasi.
Maka generasi hari ini memiliki tugas untuk melanjutkan dan memperbaruinya.
Persoalan yang dihadapi Indonesia hari ini tidak sama dengan persoalan beberapa dekade lalu.
Kita menghadapi perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan, transformasi dunia kerja, ketimpangan ekonomi, persoalan pendidikan, tantangan demokrasi, hingga perubahan geopolitik dunia.
Semua itu membutuhkan kader yang mampu memahami zaman.
Karena itu, HMI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang kuat dalam mengenang masa lalu. HMI harus menjadi organisasi yang berani memikirkan masa depan.
Kongres Lampung dan Harapan Baru
Kongres Lampung sebentar lagi akan dimulai.
Sebelum perbedaan pilihan semakin menguat, sebelum kontestasi semakin dinamis, mari kita ingat bahwa setelah kongres selesai, kita semua tetap berada di rumah yang sama.
HMI.
Karena itu, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin, ia membutuhkan dukungan seluruh kader.
Dan siapa pun yang belum mendapatkan kesempatan, tidak berarti perjuangannya berhenti.
Sebab HMI bukan hanya tentang siapa yang menjadi pemimpin.
HMI adalah tentang bagaimana seluruh kader mengambil bagian dalam perjuangan.
Kita berharap Kongres Lampung menjadi ruang untuk mempertemukan perbedaan, bukan memperlebar jarak.
Menjadikan kompetisi sebagai proses pendewasaan, bukan permusuhan.
Dan menjadikan perbedaan sebagai sumber kekayaan gagasan, bukan alasan untuk saling meniadakan.
Wajah Baru, Harapan Baru
Pada akhirnya, wajah baru HMI bukan hanya tentang siapa yang terpilih.
Wajah baru adalah keberanian untuk melakukan pembaruan.
Wajah baru adalah kesediaan untuk memperbaiki kaderisasi.
Wajah baru adalah upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual.
Wajah baru adalah kemampuan untuk membaca perubahan zaman.
Dan wajah baru adalah keberanian untuk tetap kritis sekaligus konstruktif dalam mengawal perjalanan bangsa.
Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan.
Ia adalah masa depan yang sedang kita persiapkan hari ini.
Kader HMI yang hari ini duduk di ruang-ruang komisariat, berdiskusi di sekretariat, mengikuti perkaderan, dan belajar memahami persoalan bangsa, kelak akan berada di berbagai ruang strategis Indonesia.
Karena itu, apa yang kita bangun hari ini akan menentukan seperti apa Indonesia di masa depan.
HMI memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses tersebut.
Tetapi kesempatan itu hanya akan berarti jika HMI berani berbenah.
Bukan meninggalkan identitas, tetapi memperkuatnya.
Bukan melupakan sejarah, tetapi meneruskannya dengan cara yang lebih relevan.
Bukan menolak perubahan, tetapi menjadi bagian dari perubahan.
Kongres Lampung sebentar lagi dimulai.
Mari kita sambut dengan pikiran yang jernih, hati yang lapang, dan semangat persaudaraan.
Mari kita berkompetisi tanpa kehilangan persahabatan.
Mari berbeda tanpa saling membenci.
Mari memilih tanpa saling merendahkan.
Karena pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan kemenangan satu kelompok.
Yang kita perjuangkan adalah masa depan HMI.
Dan lebih jauh lagi, masa depan Indonesia.
Wajah baru, harapan baru.
Semoga dari Lampung lahir bukan hanya kepemimpinan baru, tetapi juga semangat baru untuk membawa HMI kembali menjadi rumah besar bagi ilmu, gagasan, pengabdian, dan perjuangan.
Yakin Usaha Sampai. (Ran)

إرسال تعليق